Mataram – Sebagian bangunan SMAN 7 Mataram roboh saat jam pelajaran berlangsung pada Selasa, 19 Mei 2026, menyebabkan kepanikan di lingkungan sekolah. Insiden tersebut mengakibatkan beberapa siswa mengalami luka ringan.

Reruntuhan berasal dari bagian atap yang tiba-tiba ambruk. Siswa yang berada di lokasi langsung berhamburan keluar untuk menyelamatkan diri.

“Begitu terdengar suara keras, anak-anak langsung keluar kelas. Ada beberapa yang terkena reruntuhan dan segera kami bawa ke UKS untuk ditangani,” kata salah satu guru SMAN 7 Mataram di lokasi kejadian.

Penanganan Korban dan Dampak Langsung

Tim medis sekolah bersama petugas kesehatan memberikan pertolongan pertama kepada siswa yang terluka. Berdasarkan data sementara, tidak ada korban jiwa. Sebagian besar siswa hanya mengalami luka memar dan lecet ringan, dan sudah diperbolehkan pulang setelah mendapat perawatan.

Pihak sekolah menghentikan sementara kegiatan belajar mengajar di area terdampak. Sejumlah kelas dipindahkan ke ruang darurat untuk memastikan proses belajar tetap berjalan.

1780616609_p0OK2JUo.png

Dugaan Penyebab dan Sorotan Anggaran Pendidikan

Hingga kini, penyebab robohnya bangunan masih dalam penyelidikan. Tim dari Dinas Pendidikan NTB dan Dinas PUPR Kota Mataram telah turun ke lokasi untuk memeriksa struktur gedung. Dugaan sementara mengarah pada faktor usia bangunan yang sudah tua dan curah hujan tinggi dalam beberapa hari terakhir.

Insiden ini memicu sorotan publik terhadap kondisi sarana dan prasarana sekolah. Sejumlah pihak menilai anggaran pemeliharaan dan rehabilitasi sekolah selama ini tersedot untuk program lain, salah satunya adalah Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tengah digencarkan pemerintah.

“Kalau anggaran pendidikan habis untuk program di luar infrastruktur, ya seperti ini akibatnya. Sekolah tua tidak terawat, siswa jadi korban,” ujar salah satu orang tua siswa yang enggan disebutkan namanya.

Kritik serupa juga muncul di media sosial, menyebut MBG telah ‘merampok’ alokasi anggaran pendidikan untuk fisik bangunan dan sarana belajar. Pemerintah sebelumnya menyatakan MBG dibiayai dari pos anggaran tersendiri, namun evaluasi dampaknya terhadap anggaran pendidikan daerah masih menjadi perdebatan.

Kepala SMAN 7 Mataram menyatakan pihaknya akan memindahkan proses belajar ke ruang kelas yang aman sambil menunggu hasil pemeriksaan teknis.

“Kami mengutamakan keselamatan siswa. Ruang yang terdampak tidak akan digunakan sampai dinyatakan aman,” ujarnya.

Dinas Pendidikan NTB mengimbau seluruh sekolah di Mataram untuk segera mengecek kondisi bangunan, khususnya yang sudah berdiri lebih dari 20 tahun, guna mencegah kejadian serupa terulang.

INFOMASUK